Promo Top Up Game Termurah😍
Uncategorized

Seberapa Murah Biaya Hidup Di Malang Tahun 2022?

Buat kamu yang sedang mempertimbangkan untuk merantau di Malang, salah satu bahan pertimbangannya mungkin dari segi biaya hidup di Malang.

Well, mahal murahnya biaya hidup di Malang itu tentu relatif ya dan bisa disesuaikan juga.

Buat orang yang tinggal di Malang sebagai pekerja dengan gaji tinggi, tentunya biaya hidupnya akan jauh berbeda dengan mahasiswa yang ngekos di dekat kampus.

Selain biaya hidup di Malang, hal yang harus kamu ketahui juga tentang Malang sebelum memutuskan untuk merantau ke Kota Apel ini adalah tingkat kenyamanan tinggal disana.

Mari kita ulas lebih dalam tentang Kota Malang, biaya hidup di Malang, pendapat beberapa perantau yang tinggal di Malang, dan serba-serbi lainnya tentang Malang.

Malang “Kota Apel”

Malang adalah kota kedua terbesar di Jawa Timur setelah Surabaya.

Kota Malang memiliki hawa yang sejuk dan menyenangkan. Suhunya mencapai 15° hingga 30° Celicius. Jadi kalau kamu termasuk orang yang tidak terbiasa dengan suhu dingin, sebaiknya bawa lebih banyak pakaian tebal dan selimut jika ingin tinggal di Malang.

Kota ini terletak di lereng yang dikelilingi oleh 4 gunung yaitu:

  • Gunung Arjuno di sebelah Utara
  • Gunung Semeru di sebelah Timur
  • Gunung Kawi dan Panderman di sebelah Barat
  • Gunung Kelud di sebelah Selatan
Balai Kota Malang (Sumber: Wikimedia Commons)

Disini terdapat banyak gedung tempo doeloe peninggalan dari masa penjajahan Belanda. Malang dan Batu di dekat Kota Malang merupakan bekas tempat peristirahatan Belanda pada masa kolonial dulu, seperti halnya Salatiga atau Semarang.

Postingan Terkait

Malang dikenal sebagai Kota Apel karena di Indonesia, buah apel hanya dihasilkan dari wilayah Malang Raya.

“Dijuluki kota apel karena di Indonesia Apel hanya dihasilkan dari wilayah Malang Raya. Kalaupun ada di daerah lain, jumlahnya sedikit. Seperti di Nongkojajar, Pasuruan. Ini karena iklim Malang Raya sangat cocok untuk buah apel, karena suhu udaranya dingin,” kata Sutopo, Peneliti Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Kementerian Pertanian (Dikutip dari DetikJatim, 5 April 2022).

Etnik Masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA).

Sebagian besar penduduk Kota Malang berasal dari suku Jawa. Namun, suku Jawa di Malang dibanding dengan masyarakat Jawa pada umumnya memiliki temperamen yang sedikit lebih keras dan egaliter. Salah satu penyebabnya adalah jauhnya Surabaya dari “keraton” yang dipandang sebagai pusat budaya Jawa. (Sumber: jatim.bpk.go.id)

Mengutip tulisan Nia, salah satu lulusan Universitas Brawijaya tahun 2018 yang tinggal di Malang, menjawab pertanyaan di Quora yang menanyakan “Bagaimana pendapatmu tentang tinggal di Kota Malang?”

“Nyaman dan adem, apalagi kalau udah musim-musim mahasiswa baru, beuuh dinginnya bisa sampai di bawah 15°C. Kalau udah mulai dingin rasanya pingin nangis, udah pake selimut tetep dingin, mau ke kamar mandi takut dingin. Tapi Malang bisa panas juga kok. Kipas angin bisa sampai nyala semaleman.

Malang juga banyak banget kulinernya, apalagi bakso yang literally salah satu makanan favoritku. Malang deket sama tempat-tempat wisata juga, mau ke pantai bisa (pantai selatan), tinggal pilih mau ke pantai mana, mau ke gunung bisa ke Batu, mau ke kebun teh bisa ke Lawang.”

Jadi menurut Nia, tinggal di Kota Malang itu menyenangkan karena suhunya yang adem, banyak pilihan kuliner, banyak tempat wisata, dan tentunya biaya hidup di Malang tergolong murah.

Semurah apa sih biaya hidup di Malang?

Baca juga: 6 Cara Tes Mata Minus Online Gratis

Biaya Hidup Di Malang

Lantas bagaimanakah biaya hidup di Malang? Apakah relatif mahal atau murah?

Berdasarkan hasil research dari beberapa pendapat netizen di media sosial, mayoritas mengatakan kalau biaya hidup di Malang relatif murah.

Jika kamu merantau ke Malang sebagai mahasiswa, maka kamu bisa hidup di Malang dengan biaya hidup kisaran 1Juta/bulan. Bahkan ada juga yang bisa bertahan dengan biaya hidup di Malang kurang dari 1 juta. Kembali lagi, menyesuaikan dengan gaya hidup masing-masing, ya.

Kalau tiap hari kamu nongkrong cantik di cafe sama makan di luar, tentu 1 juta/bulan tidak akan cukup. Tapi jika kamu bisa menekan keinginan untuk sering-sering nongkrong di luar dan mau masak nasi sendiri di kosan, tentu biaya hidup di Malang sebanyak 1 juta/bulan akan cukup.

Jawaban dari netizen twitter dengan nama akun @Iye_ans pada cuitan @ubsansfess, dia mengaku biaya hidup di Malang cukup Rp500 ribu – Rp700 ribu kalau tidak ngopi setiap hari.

Makanan di Kota Malang juga tergolong murah. Di kota ini kamu bisa makan lengkap dengan uang 10 ribu di kantong. Tentu kamu masih bisa menekan biaya hidup di Malang dengan memasak sendiri atau memiliki kendaraan sendiri untuk bepergian.

Biaya hidup di malang
Sumber: Google

Salah satu tempat makan murah rekomendasi dari aboutmalang.com adalah Warung Mama, di Jl. Senggani Nomor 26.

Sesuai dengan namanya, Warung Prasmanan Mama menyediakan berbagai masakan bernuansa keluarga seperti masakan mama di rumah.

Tak hanya itu, Warung Prasmanan Mama memberikan kesempatan untuk para pembelinya untuk mengambil nasi sesuai porsinya.

Selain itu, tersedia pula sayur bening dan sayur asam yang dapat diambil sesuai keinginan dengan hitungan harga yang terjangkau.

Untuk menu, Warung Prasmanan Mama menyediakan banyak pilihan lauk pauk yang dapat disesuaikan dengan isi kantong. Bahkan kamu bisa makan lengkap dengan uang kurang dari Rp10 ribu. Murah banget, kan?

Banyak warung makan lainnya di sekitaran kampus yang bisa kamu coba untuk menghemat biaya hidup di Malang.

Intinya adalah, kalau kamu ingin menghemat biaya hidup di Malang sesuai budget, kamu harus menyesuaikan gaya hidup kamu sendiri. Cukup atau tidak, itu semua kembali ke diri masing-masing.

Baca juga: 10 Ide Desain Kamar Kost Lesehan Sederhana dan Nyaman

Kehidupan Pendatang di Malang

Bukan hanya soal biaya hidup di Malang yang harus dipikirkan, mungkin ada diantara kamu yang khawatir tentang keamanan dan kenyamanan sebagai pendatang di kota orang.

Kalau kamu ingin tahu bagaimana rasanya hidup sebagai pendatang di Kota Malang, yuk simak cerita dari salah satu netizen di Quora bernama Ervan, yang tinggal di Malang sebagai mahasiswa S1 Teknik Pertanian Universitas Brawijaya.

Saya pendatang dari Pacitan dan sudah hampir 4 tahun di Malang untuk kuliah. Rasanya cukup nyaman tinggal di Malang lantaran cuacanya yang tidak terlalu panas, ya 11–12 lah sama Pacitan menurut saya.

Pertama kali menginjakakkan kaki di Malang saat itu antara bulan Juli-Agustus, cuacanya di bulan-bulan itu rasanya amat sangat dingin, apalagi waktu Shubuhnya. Kalo jadi pendatang dan kebetulan menjadi mahasiswa baru (maba) di Malang, pasti langsung ngomong “wahh Malang emang dingin banget ya” padahal ya kebetulan aja musim maba pas musimnya peralihan kemarau ke penghujan jadi anginnya emang dingin waktu itu.

Jadi pendatang di Malang itu enak, masyarakatnya friendly terutama ke mahasiswa baru seperti saya waktu itu, masyarakatnya selalu nyaranin buat hati-hati ketika di Malang apalagi urusan motor.

Ini juga yang jadi sebab nggak enaknya jadi pendatang di Malang yang bawa kendaraan pribadi terutama motor, banyak kasus curanmor di Malang terutama untuk plat motor luar yang biasa jadi sasarannya.

Jujur selama hampir 4 tahun di Malang masih saja sering terjadi kasus curanmor, kadang juga sampek mikir “ini maling-maling motor apa nggak oada ditangkepin apa gimana sih ya? Polisi ngapain aja?” Tapi ya emang maling sulit buat nangkepinnya sih yaa. Ketangkep satu muncul yang lain lagi.

Dari segi bahasa keseharian yang sering digunakan masyarakat Malang itu kalo menurut saya pribadi terkesan kasar, ya maklum karena saya terbiasa dengan bahasa jawa ngoko halus ala-ala bahasa daerah Solo-Surakarta.

Sedangkan di Malang menggunakan bahasa jawa ngoko yang dicampur dengan bahasa Indonesia sama seperti di Surabaya cuman yang membedakan di Malang itu asiknya ada bahasa walikan (pembalikan) dimana menggunakan kata yang dibalik contohnya “rumah” jadi “hamur”, “saya” jadi “ayas”.

Meski sudah nggak banyak warga Malang yang menggunakan bahasa walikan, tetapi bahasa walikan jadi tren tersendiri bagi pendatang seperti saya, rasanya lebih merasa jadi orang Malang kalo udah pakai bahasa ini hahaha.

Kalo jadi pendatang seperti saya yang ke Malang untuk kuliah rasanya bisa seneng gitu, soalnya selain kuliah bisa sekalian jalan-jalan. Banyaknya wahana wisata alam maupun non alam sangat memanjakan saya. Contohnya aja pantai-pantai di malang selatan yang meskipun cukup jauh jaraknya (± 3 jam dari Malang kota) tetapi bagus-bagus banget viewnya.

Selain itu ada deretan Jatim Park 1–3, Agrowisata, Kebun Teh dan lain-lain, pokoknya dimanjakan banget kalo masalah hiburan. Tapi tetap yang menjadi favorit saya adalah Bukit Paralayangnya yang terletak di Kota Batu, meskipun beda kota tapi jaraknya cukup dekat hanya 1-1,5 jam perjalanan dengan akses jalan yang mudah, banyak yang masyarakat luar malang yang masih nyebut “Batu Malang” (Batu yang masuk kota Malang) soalnya yaa Kota Batu adalah pemekaran dari Malang jadi masih bangak yang nyebut Batu itu ikut Malang. Paralayang sendiri adalah sebuah bukit yang dulu katanya jadi pos pantau titik api untuk Malang dan sekarang di alih fungsikan jadi tempat rekreasi dan paralayang.

Pemandangan Kota Malang di malam hari dari bukit paralayang (Sumber: Wikimedia Commons)

Sumber: Jawaban di Quora atas pertanyaan “Bagaimana rasanya tinggal di Malang sebagai pendatang?”

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari cerita diatas adalah bahwa Kota Malang adalah kota yang ramah terhadap pendatang. Tapi meskipun demikian, sebagai pendatang, kita juga harus menghormati dan menghargai budaya yang ada disana. Ingat selalu pepatah bijak, “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.”

Baca juga: 17+ Cara Dapat Uang 500rb Sehari Untuk Pelajar

Tempat Wisata Kota Malang

Malang memiliki banyak titik wisata yang layak untuk kamu kunjungi. Jadi, meskipun sebagai pendatang atau mahasiswa dituntut untuk menekan biaya hidup di Malang, tapi jangan lupa untuk rekreasi agar pikiran tetap jernih.

Berikut ini beberapa rekomendasi tempat wisata Kota Malang yang kami kutip dari website resmi Pemerintah Kota Malang.

BALAIKOTA & ALUN-ALUN BUNDER

Sumber: Website resmi Pemerintah Kota Malang

Di Jalan Tugu adalah bangunan kuno peninggalan jaman kolonial Belanda. Monumen tugu adalah eks taman JP Zoen Coen yang di kelilingi kolam dan di tumbuhi Lily air serta di kelilingi oleh pohon Trembesi raksasa yang berusia sangat tua.

Kawasan Heritage Kayutangan

Sumber: Website resmi Pemerintah Kota Malang

Kawasan Kayutangan sedang dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan baru di Kota Malang yang menawarkan beragam pengalaman bagi wisatawan. Mulai dari wisata kekinian swafoto hingga wisata kampung heritage dan bangunan cagar budaya. Kawasan yang berada di sepanjang koridor Jl. Basuki Rachmat dan empat wilayah RW di Kelurahan Kauman tersebut sangat layak dikunjungi.

PASAR BURUNG DAN PASAR BUNGA

Sumber: Website resmi Pemerintah Kota Malang

Di Jalan Brawijaya, di jual berbagai macam burung dan bunga hidup di Malang dan Indonesia serta kios-kios buku bekas yang cocok bagi pemburu buku-buku kuno.

Taman Senaputra

Sumber: website tempatwisata.pro

Di Jl Belakang Rumah sakit merupakan sarana hiburan anak-anak dan dewasa, di lengkapi dengan arena bermain dan kolam renang. Di setiap Minggu pagi di pentaskan hiburan Tari Jaran Kepang dan band. Juga merupakan tempat latihan tari, pencak silat dan karate. Terletak hanya 500 meter dari pusat kota.

ALUN ALUN KOTA

Sumber: Website resmi Pemerintah Kota Malang

Merupakan taman yang Indah dikelilingi oleh bangunan kuno seperti masjid Jami dan gereja Katolik serta pusat perbelanjaan.

Kesimpulan

Demikianlah informasi yang bisa kami sampaikan tentang biaya hidup di Malang dan informasi penting lainnya terkait Kota Malang.

Kota Malang adalah kota yang nyaman untuk ditinggali oleh perantau dari luar kota. Biaya hidup di Malang yang tergolong murah dan juga keindahan kotanya menjadi daya tarik bagi perantau untuk menetap di Kota Apel ini.

 

 

 

 

Back to top button